The Inspiring of Warung Kopi Kampung

0
354
Warkop Sukaria 01a
Warkop Sukaria 01a

Ngobrol di warung kopi
Nyentil sana dan sini
Sekedar suara rakyat kecil
Bukannya mau usil

Sambil minum kopi
Ngobrol sane sini
(sane situ juga boleh)
Sambil ngaduk ngaduk kopi
Eh jangan bawa ke hati
(Eh jantung boleh lah)

Boleh kita berbeda pilih pemimpin
(Asal yang bener)
Tapi kalo NKRI sudah harga mati
(Gak bisa ditawar)

Ngobrol di warung kopi
Nyentil sana dan sini
Sekedar suara rakyat kecil
Bukannya mau usil

Hai kau pemuda ayo naik kuda
(Daripada naik odong-odong)
Hai kau pemudi boleh juga nyoba
(Ya nyoba odong-odong)

Mari kita bersatu serta waspada
Mengobarkan semangat perang
Melawan narkoba
(Setuju.!!…korupsi juga ya!)

Ngobrol di warung kopi
Nyentil sana dan sini
Sekedar suara rakyat kecil
Bukannya mau usil
Bukannya mau usil

kopi-alwizay.com – Ada yang pernah hafal lirik lagu diatas? Jika usia anda lebih dari 40 tahun, besar kemungkinan anda pernah mendengar Ngobrol Di Warung Kopi. Lagu yang dipopulerkan oleh Group Lawak Legenda, Warkop DKI pada tahun  70 – 80an memang bisa menggambarkan kondisi warung kopi di sebagian besar wilayah Indonesia. Dono, Kasino dan Indro yang pernah merajai dunia komedian di Indonesia sengaja menggunakan  warung kopi untuk menggambarkan kondisi Indonesia dalam lingkup kecil. Warung kopi, sebagai tempat berkumpulnya masyarakat dari berbagai lapisan telah membentuk satu komunitas tersendiri, lengkap dengan diskusi yang berbeda dengan diskusi di ruang – ruang resmi lainnya.

Warkop Cempaka 0517 (2)
Warkop Cempaka 0517 (2)
Warung Kopi Indra (8)
Warung Kopi Indra (8)
Warkop Sukaria 01a
Warkop Sukaria 01a

Warung kopi di Indonesia memang bukan sekedar tempat bertemunya  penikmat  pekat kopi hitam  dan sang penjual, tapi secara tidak langsung warung kopi adalah sebuah wadah yang menjadi ajang masyarakat untuk berkumpul dan berinteraksi secara intensif diantara mereka. Di warung kopi  kita  bebas ngobrol apa saja, dari topik ringan seputar kampung, hingga diskusi panas seputar politik dengan ditemani secangkir kopi panas, dan makanan ringan ala kadarnya.

BACA JUGA:  3 Tips Supaya Warung Kopi Anda Laris Manis

Kondisi ini bertahan selama bertahun – tahun dan bahkan mengalami perkembangan yang signifikan. Kebiasaan nongkrong di warung kopi tidak lagi dianggap kegiatan yang tidak produktif karena hanya menghabiskan waktu dan uang saja. Lobi – lobi politik, bisnis dan bahkan kampanye pencalonan anggota dewan, bupati, walikota, gubernur dan presidenpun bisa dengan leluasa dilakukan di tempat ini. Warung kopi sebagai tempat bebas yang memiliki daya tarik tersendiri menjadi satu tempat yang dianggap potensial oleh sebagian warga sehingga mereka menjatuhkan pilihannya.

Kalaupun sekarang kita menyaksikan munculnya warung kopi modern di mall-mall, atau tempat strategis di pusat perbelanjaan suatu kota besar, kita tak bisa melupakan begitu saja warung – warung kopi tua yang masih memiliki penggemar untuk rutin datang dan menikmati sajian klasiknya. Warung kopi tetap memiliki daya tarik tersendiri dengan keunikan yang sudah bertahun – tahun dipertahankan. Seperti sajian unik Kopi Telungkup di Aceh, sensasi minum kopi dengan gelas terbalik, diminum sambil mengangkat piringnya, bisa juga diminum melalui sedotan. Kehadiran kopitiam, gerai warung kopi franchise internasional seperti Starbucks, maupun citarasa modern dari Excellso merupakan tuntutan zaman masyarakat modern yang bisa jadi terinspirasi dari budaya dan tradisi warung kopi.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here